B. Wazannya
Dikatakan bahwa wazan muntaha al-jumu’ memiliki 19 wazan,[1] ada juga
yang mengatakan lebih dari 30 wazan,[2] seperti:
فعالِل, فواعِل, فعالى, أفاعِل, dan seterusnya. Namun mayoritas ulama mengatakan bahwa wazannya
merupakan wazan mumatsil (serupa) dengan 2 shighah: مَفاعِل dan مَفاعِيل.[3]
Yang dimaksud dengan wazan mumatsil adalah serupa wazan nya secara lafadz saja
(harokat, sukun, dan jumlah hurufnya) tanpa memperhatikan huruf asli dan huruf
tambahan.[4] Sehingga
tidak masalah meskipun tidak diawali huruf mim[5] seperti:
ضوارب dan قناديل. Dapat disimpulkan bahwa bentuk muntaha al-jumu’ adalah setiap
jama’ yang diawali fathah dan huruf ketiganya alif, setelahnya diakhiri 2 huruf
yang diawali dengan kasrah seperti دَراهِم atau diakhiri 3 huruf yang diawali kasrah dan ditengahi dengan
sukun seperti دَنانِيْر.[6]
Ibnu Malik menambahkan bahwa wazan mumatsil di sini bisa juga
dimaknai dengan keserupaan huruf pertama pada bentuk jamak dan tunggalnya,[7] seperti:
درهم-دراهم, مفتاح-مفاتيح, سفرجل-سفارج.
Kedua shighah tersebut disebut shighah muntaha al-jumu’ dengan
syarat tidak diakhiri dengan ta marbuthah karena akan membuat dia mirip dengan
isim mufrod, seperti kata مَلائِكَةٌ adalah jamak taksir yang diakhiri
dengan tanwin karena memiliki wazan yang sama dengan isim mufrod seperti كَراهِيَةٌ(kebencian).[8]
Syarat lainnya adalah tidak diawali dengan harakat dhammah, seperti
مُعامِلٌ
jika demikian maka dia isim munsharif.[9] Karena
dia merupakan wazan isim fa’il dan shifah musyabbahah dari فاعَلَ.[10]
Syarat lainnya adalah tidak diakhiri “ya nisbah”,[11] seperti مَعانِيٌّ yaitu nisbah kepada مَعانٍ maka dia termasuk isim munsharif.[12]
Syarat lainnya adalah alif tersebut bukanlah sebagai pengganti “ya
nisbah”, seperti يَمانٍ berasal dari kata يَمَنِيٌّ kemudian salah “ya”-nya diganti
dengan alif, sedangkan “ya” yang lain diganti dengan tanwin.[13]
Rizki Gumilar
di Kampung Santri
[1] Jami’ ad-durus
al-‘arabiyyah: 182
[2] Al-mamnu’ min
ash-shorf mu’jam wa dirosah: 44-45
[3] Syarh
al-kitab: 3/494, Syarh al-jumal: 2/328, Syarh at-tashil: 8/3969, Ham’u
al-hawami’: 1/88, Syarh al-‘alamah Ibn ‘Aqil ‘ala al-alfiyyah: 151, al-Kawakib
ad-durriyyah: 78
[4] Irtisyaf
adh-dharab: 2/852, Syarh at-tashil: 8/3969
[5] Syarh syudzur
adz-dzahab: 2/830, Syarh al-‘alamah Ibn ‘Aqil ‘ala al-alfiyyah: 151
[6] al-Kawakib ad-durriyyah:
78
[7] Syarh at-tashil:
9/4836
[8] Syarh
al-kitab: 3/496-497, Syarh al-kafiyah: 1/127
[9] Al-Mamnu’ minash
shorf mu’jam wa dirosah: 43
[10] Mu’jam
al-auzaan ash-sharfiyyah: 248
[11] “ya nisbah”
berfungsi untuk menyandarkan sesuatu kepada sesuatu, seperti مَكِيٌّ (orang Makkah), jika “ya” tersebut dihilangkan maka dia bisa
berdiri sendiri, menjadi مكّة. (Syarh alfiyyah li al-‘Utsaimin: 3/576-577)
lalu دَنانِيْر , ikut wazan yg mana ustadz? Mohon jawaban , krn lagi butuh bgt ..
BalasHapusJazaakallooh khoiron