Rabu, 13 September 2017

Sengatan Tawon itu Melumpuhkan Sang Imam (bag. 1)

"perintahkan mereka untuk mengucapkannya, niscaya lidah mereka tidak akan mampu mengucapkannya!"
         
          Seringkali fakta yang berbalut politik akan melahirkan sejarah yang simpang siur. Ilmu pasti, dibuatnya nisbi. Itulah yang terjadi pada masalah zunburiyyah (tawon) yang berporos pada kaidah idza fujaiyyah إذا الفُجائيَّة. Permasalahan ini masyhur di kalangan nuhat hingga menyisakan luka di hati Sang Imam. Adalah menjadi tugas kita para penerus mereka untuk meluruskan fakta sejarah. Al-Imam al-Adib Abul Hasan Hazim bin Muhammad al-Anshari al-Qarthajanni meriwayatkan kisah tersebut dalam nadzhomnya[1], mari kita simak bersama:
والعُرْبُ قد تحَذِفُ الأخبارَ بعد "إذا"
إذا عَنَتْ فَجْأةَ الأَمْرِ الّذي دَهَما
Terkadang orang Arab menghilangkan khobar setelah “idza fujaiyyah”
ketika dimaksudkan untuk perkara yang mendadak dan tak terduga[2]
ورُبمّا نصبوا لِلْحالِ بعد "إذا"
ورُبّما رفعوا من بعدِها رُبَما
Mungkin saja mereka menashabkan isim setelah “idza fujaiyyah” sebagai haal,[3]
mungkin saja mereka merafa’kan setelahnya,[4] mungkin saja[5]


Rizki Gumilar
di Kampung Santri


[1] Thabaqaat asy-syafi’iyyah al-kubraa: 9/296-298, Syadzaraatu adz-dzahab: 2/280, Fathu al-qariib al-mujiib: 1/166

[2] Ada 5 perbedaan antara idza fujaiyyah dan idza syarthiyyah: 1) setelah idza fujaiyyah adalah jumlah ismiyyah sedangkan setelah idza syarthiyyah adalah jumlah fi’liyyah. 2) idza fujaiyyah tidak butuh jawaban sedangkan idza syarthiyyah butuh. 3) idza fujaiyyah waktunya sekarang sedangkan sedangkan idza syarthiyyah waktunya mendatang. 4) kalimat setelah idza fujaiyyah tidak memiliki kedudukan dalam i’rab sedangkan kalimat setelah idza syarthiyyah dalam kondisi jarr mudhaf ilaih. 5) idza fujaiyyah tidak terletak di awal kalimat sedangkan idza syarthiyyah di awal kalimat. (mausu’ah ‘ulum al-lughah al-‘arabiyyah: 1/339)
Keduanya terkumpul dalam ayat berikut:
ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِّنَ الْأَرْضِ إِذَا أَنتُمْ تَخْرُجُونَ  (الروم: 25)

[3] Ini adalah pendapat yang dibawakan al-Kisa’i dan siapa pun yang sependapat dengannya. Pendapat mereka dinukil dalam bait berikut:
وناقِلُ النصب على الحال أصرّ                   وجَعَل المحذوفَ أو "إذا" الخبرْ
Orang yang selalu menashabkan isim setelah idza fujaiyyah dengan anggapan bahwa dia haal,
dia mena’wilkan ada khabar yang mahdzuf atau idza fujaiyyah tersebut adalah khabarnya. (Fathu al-qariib al-mujiib: 1/168)
Pada bait di atas, bagi yang menashabkan isim sebagai haal, maka tidak lepas dari 3 kemungkinan ta’wil idza: idza sebagai khabar karena dia dzaraf makan, atau khabarnya mahdzuf karena idza dzaraf zaman atau harf. Hal ini yang disebutkan oleh Ibnu Hisyam dalam bait berikut:
نحو "خزجتُ فإذا الليثُ يقفْ                     ببابِنا" والقول فيها مختلفْ
في كونها ظرفَ مكانٍ أو زمنْ                 وكونُها الحرفَ بدا بلا وهنْ
Misalnya “kharajtu faidza al-laitsu bi baabinaa” pendapat dalam kalimat itu berselisih
tentang hakikat “idza” apakah dia dzharaf makan atau dzaraf zaman, namun yang berpendapat bahwa dia harf nampak tidak ada kelemahan. (Fathu al-qariib al-mujiib: 1/161)
Mereka yang berpendapat bahwa idza fujaiyyah adalah dzaraf makan maka mereka akan mengi’rab idza sebagai khabar, hal ini diisyaratkan al-Mubarrad dan diikuti oleh al-Farisi, Ibnu Jinni, as-Sirofi, dan Ibnu al-Khayyath. Pendapat ini dinisbahkan kepada Sibawaih. (al-Kitab: 1/107, al-Muqtadhab: 3/178, at-Tammam: 127, Irtisyaf adh-dharab: 1412, al-Janaa ad-daanii: 374, Dirosat li uslubi al-qur’an: 1/210, Mauqifu Abi Hayyan: 1071). Namun al-Mubarrad sendiri nampak bimbang karena di kitab yang sama beliau menyebutkan bahwa “idza” adalah harf (al-Muqtadhab: 2/56). Hujjah mereka adalah hanya dzaraf makan yang bisa menjadi khabar dari mubtada yang berupa benda konkrit (yang berwujud), adapun dzaraf zaman dan harf tidak bisa (Amali Ibni asy-Syajari: 2/84, Syarh al-mufashshal: 4/156, Syarh al-kafiyah: 1/242).
Sehingga ketika seseorang mengatakan خرجت فإذا زيدٌ maka seakan-akan dia mengatakan فَبِمكاني زيدٍ sehingga idza menjadi khabar Zaid (al-Musa’id: 1/511).
Mereka yang berpendapat bahwa idza fujaiyyah adalah dzaraf zaman maka mereka akan memahdzufkan khabarnya, ini pendapat yang disebutkan az-Zajjaj dan ar-Ruyasyi, yang diikuti oleh az-Zamakhsyari, Ibnu Thahir, Ibnu Kharuf, dan Abu Ali asy-Syalubain. Pendapat ini juga dinisbahkan kepada Sibawaih. (al-Kitab: 4/232, Syarh al-kafiyah: 1/242, Irtisyaf adh-dharab: 1412, al-Janaa ad-daanii: 374, al-Musa’id: 1/511, Fathu al-qariib al-mujiib: 1/162, Dirosat li uslubi al-qur’an: 1/210, Mauqifu Abi Hayyan: 1071). Mereka memahdzufkan khabarnya karena dzaraf zaman tidak bisa dijadikan khabar kecuali mendatangkan faedah, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Malik pada bait berikut:
ولا يكون اسمُ زمانٍ خبرَا                     عن جُثّةٍ وإن يفدْ فأخبِرَا
Isim zaman tidak bisa menjadi khabar dari benda konkrit namun jika berfaedah maka boleh (Alfiyyah Ibnu Malik: 10)
Dan dalil yang digunakan bahwa ia dzaraf zaman adalah qiyash dengan ucapan: القتال إذا يقوم زيدٌ maknanya adalah: القتال يومَ يقوم زيدٌ (al-Masa’il al-‘askariyyah: 86).
Pendapat ketiga menyebutkan bahwa idza fujaiyyah adalah harf dan ini pendapat terkuat sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hisyam: وكونُها الحرفَ بدا بلا وهنْ. Pendapat ini dibawakan oleh al-Akhfasy, diikuti oleh jumhur Ulama Kufah, Ibnu Barri, Ibnu Malik, dan asy-Syalubain di salah satu pendapatnya, begitu juga al-Mubarrad di salah satu pendapatnya (al-Muqtadhab: 2/56, Irtisyaf adh-dharab: 1413, al-Janaa ad-daanii: 375, al-Musa’id: 1/510, Mauqifu Abi Hayyan: 1071).
Hujjah mereka adalah bolehnya idza menggantikan fa’ul jawab, dan fa’ul jawab adalah harf. Berikut baitnya:
وتخلُفُ الفاءَ إذا المُفاجأه            كإنْ تجُدْ إذا لنا مُكافأه
Fa bisa digantikan idza fujaiyyah, seperti: “jika kamu berlaku baik maka kami mendapat ganjarannya” (Alfiyyah Ibnu Malik: 47)
Juga dia boleh diletakkan sebelum إنّ sedangkan jika dia dzaraf maka tidak boleh, kecuali terletak sebelum أنّ maka boleh. Berikut baitnya:
وكنتُ أرى زيدًا كما قيل سيِّدا                إذا إنه عبدُ القفا واللهازم
Dahulu aku kira Zaid itu seorang juragan sebagaimana dikatakan orang, ternyata dia hanya seorang budak milik orang yang rendah nasabnya dan budak Lahazim (Bani Taimillah) (al-Musa’id: 1/510)
Juga dia tidak diidhafahkan kepada jumlah sebagaimana idza dzarfiyyah (Hasyiyah ash-Shobban: 2/388)
Dia juga kata yang tidak bermakna kecuali bersama yang lain, sebagaimana huruf. Dia juga terletak di antara 2 kalimat, hanya huruf yang bisa seperti ini. Setelahnya tidak lain jumlah ibtidaiyyah, hanya huruf yang bisa seperti ini. Seandainya dia dzaraf maka tidak akan diperselisihkan antara makaniyyah atau zamaniyyah. Seandainya dia dzaraf tidak mungkin diletakkan di antara syarat dan jawab, dan pasti akan didahului oleh fa. Seandainya dia dzaraf pasti tidak butuh khabar, kenyataannya selalu ada khabar baik secara lafadz ataupun taqdir (Tamhid al-qowa’id syarh at-tashil: 4/1939-1940)

[4] Ada juga yang merafa’kan isim setelah idza, ini adalah pendapat yang lebih rajih dan lebih benar daripada pendapat yang menashabkan, sebagaimana disebutkan dalam bait berikut:
وإن تقل "إذا الإمامُ قائما"                      فرفعَه أو نصبَه به احكُما
فسيبويهِ مانعٌ لنصبِهِ                     أمّا الكسائي فرَوَى عن حزبهِ
والأوّل الراجحُ والصوابُ                       كما به قد أُنزلَ الكتابُ
Jika kamu mengatakan “tiba-tiba imam berdiri” maka hukumilah dengan rafa’ atau nashab,
Maka Sibawaih melarang untuk menashabkannya sedangkan Kisa’i meriwayatkan (dengan nashab) dari para pendahulunya,
Dan pendapat pertama lebih rajih dan lebih benar karena al-Qur’an diturunkan dengannya (dengan rafa’) (Fathu al-qariib al-mujiib: 1/163)
Sebagaimana kita ketahui bahwa hujjah paling utama dalam kaidah bahasa Arab adalah al-Qur’an (al-Ushul: 1/31). Dan dalam al-Qur’an tidak pernah muncul isim setelah idza fujaiyyah melainkan dia marfu’, seperti ayat-ayat berikut:
فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى (طه: 20)
وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ (الأنبياء: 97)
وَنَزَعَ يَدَهُ فَإِذَا هِيَ بَيْضَاءُ لِلنَّاظِرِينَ (الأعراف: 108)
إِن كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ (يس: 29)

[5] رُبمّا pada syathr kedua diulang 2 kali. Hal ini bermakna bahwa رُبمّا pada syathr pertama adalah harf taqlil (menunjukkan jarang) sedangkan pada syathr kedua adalah harf taktsir (menunjukkan sering) (Hasyiyatu asy-Syummunni: 1/190)



0 komentar:

Posting Komentar