Sabtu, 02 September 2017

Fi’il yang Hilang


          Seringkali kita dapati dalam kalimat jawaban, fi’il-nya dihilangkan (mahdzuf). Sebagaimana kita ketahui bahwa fi’il semestinya tidak boleh dihilangkan dalam kalimat karena dia termasuk ke dalam Umdatul Kalam (Inti Kalimat) yang mana jika dia hilang maka kalimat tidak lagi sempurna. Namun dalam jawaban pertanyaan, fi’il tersebut boleh dihilangkan karena umumnya fi’il tersebut merupakan pengulangan dari fi’il yang ada pada kalimat pertanyaan, seperti:
مَنْ ذَهَبَ؟ زَيْدٌ
Pada kalimat jawaban tidak perlu kita ulang fi’il ذَهَبَ, karena adanya dalil. Dalil tersebut terdapat pada kalimat pertanyaan sehingga tidak perlu kita ulang penyebutannya.
          Sekarang pertanyaannya, apakah kalimat jawaban tersebut jumlah ismiyyah atau jumlah fi’liyyah? Mengingat pada kalimat jawaban hanya terdapat 1 isim saja, yang mana kita tidak tahu apakah isim tersebut kedudukannya sebagai mubtada atau fa’il. Atau dengan kata lain taqdir kalimatnya apakah زَيْدٌ ذَهَبَ atau ذَهَبَ زَيْدٌ ?
            Pola kalimat semisal ini banyak terdapat dalam al-Qur’an, saya berikan contoh ayat berikut:
قال تعالى: وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
Ada 4 ayat lain yang senada dengan ayat ini yakni pada al-Ankabut: 61 & 63, Luqman: 25, dan az-Zumar: 38.
Ulama sepakat bahwa fi’il yang mahdzuf tersebut adalah خَلَقَ sebagaimana dalil yang ada pada kalimat pertanyaan. Namun mereka berselisih pendapat apakah yang mahdzuf tersebut berkedudukan sebagai khabar ataukah fi’il. Namun Jumhur Nuhat berpendapat bahwa yang mahdzuf adalah fi’il dan isim yang disebutkan adalah fa'il, sehingga taqdirnya adalah خلقنا الله.[1] Dengan pertimbangan sebagai berikut:

1.     Bagi madzhab Kuffah ini tidak jadi masalah karena menurut mereka fa’il boleh mendahului fi’il.[2] Maka pertanyaan مَّنْ خَلَقَهُمْ adalah jumlah fi’liyyah dengan fa’il yang muqoddam, sehingga sudah pasti jawabannya juga jumlah fi’liyyah.

2. Asalnya setelah huruf istifham itu adalah fi’il bukan isim.[3] Dan setiap isim istifham diikutkan kepada huruf istifham (karena istifham asalnya dengan huruf). Misalnya: مَنْ قام؟ maknanya adalah أَقام زيدٌ أم عمرو أم خالد؟ atau semisalnya, namun untuk meringkasnya maka digunakan lafadz مَن؟. Sehingga pertanyaan tersebut fi'liyyah secara dzhohir namun hakikatnya adalah ismiyyah. Karena istifham dengan fi'il itu lebih utama.[4] 

3.  Jika memang jawabannya adalah jumlah ismiyyah maka lebih sesuai lafadz pertanyaannya من خالقُهم؟ karena khabar asalnya adalah isim.[5] Jika pertanyaannya seperti itu maka jawaban yang sesuai adalah الله خالقُنا.

4. Jika taqdirnya خلقنا الله maka ada 1 kalimat yang mahdzuf, yaitu jumlah fi’liyyah. Jika taqdirnya الله خلقنا maka ada 2 kalimat yang mahdzuf, yaitu jumlah ismiyyah yang khabarnya berupa jumlah fi’liyyah. Maka lebih utama yang 1 kalimat.[6] Karena semakin ringkas taqdir maka semakin baik.[7]

5.  Diantara ayat-ayat yang senada tersebut ada 1 ayat yang jawabannya tidak mahdzuf yaitu az-Zukhruf: 9
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ
Maka ulama meng-qiyash-kannya dengan ayat ini, yaitu jawabannya menggunakan jumlah fi’liyyah.[8]

6.   Jika ada yang mengqiyashkannya dengan ayat lain seperti pada al-An’am: 63-64
قُلْ مَن يُنَجِّيكُم مِّن ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَّئِنْ أَنجَانَا مِنْ هَذِهِ
 لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ. قُلِ اللَّهُ يُنَجِّيكُم مِّنْهَا وَمِن كُلِّ كَرْبٍ ثُمَّ أَنتُمْ تُشْرِكُونَ

Mengapa jawabannya dengan jumlah ismiyyah قُلِ اللَّهُ يُنَجِّيكُم ?
Maka kita jawab, karena tujuannya adalah pengkhususan sehingga boleh dimajukan musnad ilaihnya. Adapun dalam kasus mahdzuf maka harus dikembalikan pada bentuk asalnya.[9]



Rizki Gumilar

Terinspirasi dari sebuah pertanyaan di Majelis Mulakhos Qowa'idil Lughah, Kampung Santri




[1] Al-Hasyiyyah ‘ala al-Muthowwal: 174, I’rab al-Qur’an al-Karim wa Bayanuhu: 7/110
[2] Syarh Ibnu Aqil ‘ala Alfiyyah Ibn Malik: 2/77
[3] Al-Kitab: 1/98
[4] Al-Hasyiyyah ‘ala al-Muthowwal: 174
[5] Al-Kawakib ad-Durriyyah: 175
[6] Al-Hasyiyah asy-Syumunni ‘ala al-Mughni: 2/254, Al-Hasyiyyah ‘ala al-Muthowwal: 174
[7] Syarh Alfiyyah Ibn Malik li al-‘Utsaimin: 2/452
[8] I’rab al-Qur’an al-Karim wa Bayanuhu: 7/110
[9] Al-Hasyiyyah ‘ala al-Muthowwal: 175

1 komentar: