Senin, 29 Oktober 2018

Mudahkan Mereka yang Mengambil Ilmu Darimu




Manusia adalah makhluk yang bodoh jika tidak Allah berikan ilmu kepadanya. Allah berfirman:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا

“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa pun.”. (An-Nahl: 78)
Kemudian Allah berikan ilmu hingga manusia pun mengetahui banyak hal. Allah berfirman:
وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُن تَعْلَمُ
“Dia telah mengajarkanmu apa yang belum kamu ketahui.” (An-Nisa: 113)
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Dialah yang mengajar dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaq: 4-5)
         Sehingga dari sini kita mengetahui betapa besarnya nikmat ilmu, yang dengannya kita bisa terbebas dari gelapnya kebodohan. Bahkan nikmat ilmu ini lebih agung daripada nikmat ibadah. Karena tanpa ilmu kita tidak akan tahu bagaimana cara ibadah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَضْلُ الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ
“Keutamaan ilmu itu lebih baik daripada keutamaan ibadah." (HR. Ath-Thabrani).
Karena begitu besarnya nikmat ilmu maka mensyukurinya pun patut kita prioritaskan. Bagaimana cara mensyukuri nikmat ilmu? Jika cara mensyukuri nikmat harta dengan cara mensedekahkannya, maka begitu juga dengan ilmu, dengan cara mensedekahkannya (mengajarkannya). Sufyan ats-Tsaury rahimahullah pernah mengatakan:
لَا أعلَمُ مِن العِبادَة شَيئًا أفضَلُ من أنْ يُعلّمَ الناسَ العِلمَ
“Aku tidak mengetahui ada satu ibadah yang lebih utama dari mengajarkan suatu ilmu kepada manusia.” (Jami’ bayanil ‘ilmi wa fadhlih: 124)
        Maka ikhwatii fillah, sungguh sangat mengherankan ketika ada orang yang berilmu atau ustadz namun sangat pelit untuk mengajarkan ilmu, padahal Allah begitu dermawan melimpahkan ilmu kepadanya. Sungguh tak habis pikir, disaat Allah mudahkan jalan meraih ilmu kepadanya namun dia persulit orang lain untuk mengambil ilmu darinya. Padahal dia mendapatkan ilmu tersebut dengan cuma-cuma, atau Allah mudahkan baginya mengais rejeki yang dengannya dia bisa menuntut ilmu, apa dia merasa ilmu tersebut didapat dengan kerja kerasnya? Sekali lagi tidak, Allah lah yang memberikan ilmu kepada siapa yang Dia kehendaki.
Oleh sebab itu janganlah pamrih wahai akhi wahai ukhti... ingatlah kau sama sekali tak akan merugi ketika kau sedekahkan ilmumu, justru ia akan menjadi sebuah investasi yang tak ternilai dan tak terhingga, sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)


Abu Kunaiza

Riyadh



1 komentar: